Mengharap Sama Allah – Part 3

Syetan akan selalu berusaha memadamkan harapan. Syetan akan terus mengatakan, “Allah ga bisa bantu Kamu. Lihat, shalat Kamu terakhir-terakhir ini. Lihat sedekah Kamu. Lihat tangisan Kamu di tahajjud Kamu. Lihat. Percuma kan? Kamu tetep susah. Kamu tetap kehilangan toko Kamu. Suami Kamu pun sekarang meninggalkan Kamu. Anak-anak mu tidak ada lagi yang nengokin Kamu. Kawan-kawanmu apalagi…”

Syetan bukan saja memadamkan harapan akan Allah, akan pertolongan-Nya. Bahkan syetan menghadirkan kegelisahan kegelisahan baru, ketakutan ketakutan baru, kekhawatiran kekhawatiran baru. Kalau terus dibiarkan, maka siapa lagi kemudian yang akan membahagiakan hati?

Continue reading

Mengharap Sama Allah – Part 2

Pernah diceritakan datang seorang pedagang kepada Allah, yang jika tidak bisa bayar gironya, maka masalah akan datang bertubi-tubi. Gironya bukan selembar. Tapi 2-3 buku giro. Alias buanyak sekali pembayaran. Dia berpikir bahwa dia merugikan banyak sekali orang. Sementara dagangannya bukan saja tidak laku, tidak jadi duit, tapi dagangannya dibawa lari orang. Sementara aset ga punya. Sudah dijual satu demi satu untuk penbayaran ini dan itu. Setumpuk pembayaran, masih di depan mata.

Continue reading

Mengharap Sama Allah – Part 1

Allah lah tempat berharap semua yang punya harapan.

 

Coba? Kepada siapa lagi mereka yang punya hutang berharap?

Sama manusia lagi?

Sehingga sebenernya bukan terbayar hutangnya?

Melainkan bayar hutang dengan hutang yang bertambah besar?

Kepada siapa yang punya hutang lalu bisa mengadu dengan aman, tenang, menenangkan? Selain kepada ALlah?

Ketika mengadu kepada manusia, yang ada hanya tambahan kepusingan, tambahan masalah, sebab dia juga barangkali punya masalah.

Dan siapa juga yang siap menerima aduan, keluhan, setiap saat?

Ga ada, kecuali Allah.

Allah bisa memberi kesejukan hati. Allah bisa memberikan rasa adem, rasa tenang. Allah akan kuatkan batin.

Dan Allah akan bukakan harapan demi harapan. Bagi sesiapa yang berharap kepada-Nya, Allah akan mewujudkan harapan itu.

Continue reading

Diundang Allah

Bangganyaaaaa diundang Gubernur, Presiden, Menteri, Orang Kaya…

Tapi ga bangga diundang Allah…

Allah Mengundang kita. Memanggil kita. Lewat azannya muadzdzin. Lewat panggilan shalat. Ga tangung-tanggung. Allah Memanggil kita langsung ke “Kediaman-Nya”. Ke Rumah-Nya. Ke Istana-Nya. Ke Masjid-Nya. Kita diistimewakan, bisa datang sebelum waktunya, dan dilayani Allah dengan Allah menerima siapa yang mau shalat duluan. Disediakan oleh Allah shalat sunnah tahiyyatul masjid, sebelum tiba masuk shalat fardhunya, sebagai Grand-Meeting sama Allah. Dan kita diperbolehkan-Nya berdoa, sebelum berdoa setelah menyembah-Nya di waktu shalat fardhu datang, dengan melaksanakan shalat fardhu. Allah jamu kita tanpa membeda-bedakan siapa kita. Siapa yang datang duluan, dan bisa duduk di shaf 1, silahkan di shaf 1. Dan Allah tidak membatasi waktunya. Silahkan jika mau berlama-lama. Subhaanallaah.

Tapi kita ga memenuhi undangan Allah ini.

Continue reading

Siapa Tuhan Kita? – Part 2

Sekilas Part 1:

Ketika seseorang dibenturin sama ujian hidup. Misal dia ga bisa bayar hutang, apa yang dia katakan? “Kalo saya ga bisa bayar besok ini, saya bisa gawat nih…”

Keliatannya ga masalah kalimat ini. Tapi buat saya ini masalah. Pantes aja ga ada ketenangan. Pantes aja jadi ga tenang.

Secara kalimat seperti memang begitu. Sebab dia ga bayar hutang, besok bisa gawat. Pikiran seperti ini yang akan bener-bener membuat dia gawat.

***

Tidak ada yang berkuasa atas diri kita. Termasuk pikiran kita. Kalau kita mikirnya baik, maka akan baik pula kejadiannya. Jika kita berpikir buruk, jelek, kacau, maka semua yang kita pikirin bisa terwujud. Kalimat ini masih harus ditambahin, bi-idznillaah, dengan izin Allah. Atau: Maa Syaa-Allah. Laa quwwata illaa billaah. Apa-apa semua Kehendak Allah. Tidak ada daya upaya kecuali dengan Kekuatan Allah. Jadi panjang sih setiap kalimat kita. Tapi jadi aman. Belakangan tahun saya ya begitu. Aman.

Continue reading

Siapa Tuhan Kita? – Part 1

Perkara tauhid akan menyebabkan ketenangan dan ketidaktenangan.

Sering saya bertanya, siapa sih Tuhan kita? Siapa Tuhannya Ibu dan Bapak? Tuhannya Mas, Tuhannya Mbak? Tuhannya Saudara dan Kawan-kawan semua?

Ga ada yang berani mengatakan Tuhan kita bukan Allah. Insya Allah kita akan mengatakan bahwa Tuhan kita adalah Allah. Dan insya Allah memang Tuhan kita adalah Allah. Tapi yang jadi masalah kemudian adalah bisa jadi ga murni. Ga bersih. Ada Tuhan lain bersama Allah.

Continue reading

Come to Allah, Talk to Allah – Part 2

Berikut cerita lanjutan mengenai pengalaman hidup dari Ustad Yusuf Mansur. Semoga pengalaman hidup beliau mungkin dapat menginspirasi kita semua.

***

29 November 2001, setelah shubuh, Wirda lahir. Duit belom ada. Dan pikiran saya masya Allah, masih duit, duit, dan duit. Padahal sekali lagi, Allah punya buanyak cara, buanyak jalan. Bisa saja kan Allah hadirkan cara lain. Misalnya dibebaskan biaya oleh bidannya, dan lain sebagainya. Tapi fokus saya, salah. Bukan Allah dengan segala Pertolongan dan Kemudahan-Nya. Tapi malah duit.

Continue reading