Mengharap Sama Allah – Part 3

Syetan akan selalu berusaha memadamkan harapan. Syetan akan terus mengatakan, “Allah ga bisa bantu Kamu. Lihat, shalat Kamu terakhir-terakhir ini. Lihat sedekah Kamu. Lihat tangisan Kamu di tahajjud Kamu. Lihat. Percuma kan? Kamu tetep susah. Kamu tetap kehilangan toko Kamu. Suami Kamu pun sekarang meninggalkan Kamu. Anak-anak mu tidak ada lagi yang nengokin Kamu. Kawan-kawanmu apalagi…”

Syetan bukan saja memadamkan harapan akan Allah, akan pertolongan-Nya. Bahkan syetan menghadirkan kegelisahan kegelisahan baru, ketakutan ketakutan baru, kekhawatiran kekhawatiran baru. Kalau terus dibiarkan, maka siapa lagi kemudian yang akan membahagiakan hati?

Tapi Allah tetap Allah. Seribu kali kita mengeluhkan tentang Allah tidak mau membantu, Allah tetap akan membantu. Sebagaimana sedekah yang dikeluhkan tidak akan terbayar, akan terbayar. Sedekah yang dikeluhkan tidak bener, ternyata Allah tetap mewujudkannya. Sampai-sampai banyak yang malu sama Allah. Ternyata Janji-Nya bener. Kitanya aja yang ga bersabar.

Saat sedang putus asa, hadir kawan-kawan baru yang membahagiakan. Didatangkan seorang ustadz ke dalam LP di mana dia ada di sana. Memperkenalkannya kepada al Qur’an. Dia mengingat, dia ga ada perhatiannya sama al Qur’an. Ditawarkan kepadanya, al Qur’an itu mudah untuk dihafal. Cukup 1 hari 1 ayat. “Ga usah dihafal deh, coba. Dibaca aja. Tapi bacanya berulang-ulang. 20 sampe 40 kali. Tar juga hafal…”

Manusia sudah membuangnya. Suaminya, anak-anaknya, keluarganya. Semua orang di sekelilingnya. Tapi Allah menerimanya.

Kejadian ini belum lama dikisahkannya. Udah ada One Day One Ayat kan berarti belum lama. Itu dakwah kita atas izin Allah.

Dan itulah Allah. Allah mau menerimanya. Allah kenalkan dia sama kawan-kawan baru. Dia melihat ada yang bener-bener jahat, brengsek, kacau. Tapi dia juga melihat ada banyak orang sepertinya. Dasarnya baik. Tapi barangkali keadaan yang membuatnya dicap sebagai orang jahat juga.

Pelan-pelan dia dekati lagi Qur’an. Satu demi satu kesenangan dihadirkan Allah. Di mana-mana ternyata ada kebahagiaan.

Dan saat itu pun datang. Saat pembebasan. Dia bisa menghargai Allah lebih dari sebelumnya. Dia bisa menghargai waktu luang, kesehatan, ibadah, dan banyak hal yang dulu tidak terlalu disyukurinya.

Suami dan anak-anaknya ternyata menjemputnya. Mereka tidak membuangnya. Mereka tidak melupakannya. Hingga dia baru sadar, setiap bulan mereka datang menjenguknya, membawakan masakan rumah.

2 tahun berlalu. Dengan semua yang dia pernah ga bayar gironya sudah kembali bersahabat. Seiring dengan waktu, semua bisa menerima masing-masing masalahnya. Hutang tetaplah hutang. Yang harus dibayar walau sudah masuk bui. Tapi dia mendapati dirinya sudah bisa membayar, sedikit demi sedikit. Tokonya, yang memang ternyata juga sudah dikontrak selama 10 tahun, kembali dibukanya.

Ada yang beda. Malam-malamnya tetap diisi. Bukan dengan harapan jangka pendek, “besok harus lunas ini, harus bayar itu.” Bukan. Tapi dengan harapan yang dia biarkan Allah bekerja penuh di dalam harapannya itu.

Di dalam LP dia pelajari buku-buku ustadz tersebut. Banyak waktu buat baca.

Saban tahajjud, dia adukan. Hari ini ada yang buka giro. Sebelum buka giro dia udah baca doa. Di pagi hari sebelum buka toko, dia udah shalat, dan berdoa. Agar dihadirkan pembeli yang ga bermasalah. Dan andaipun bermasalah, minta dihadirkan solusinya terus, jangan sampe keburu mentok dan bermasalah lain.

Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Paginya lapor sama Allah, lewat dhuha. Zuhur lapor lagi atas apa yang terjadi di jam buka sampe zuhur. Ashar lapor lagi. maghrib lapor lagi. isya lapor lagi. Jelang malam lapor lagi. Dan di sepertiga malam, lapor lagi. Begini dan begitu. Seakan-akan Allah itu begitu nampak di hadapannya. Bagaikan pemodal yang harus dilapori terus perkembangan tokonya.

Kehidupannya berubah. Allah melihat 10 tahun tokonya, dia dan suaminya, juga anak-anaknya, harus diajari sesuatu. Sesuatu yang tidak membuat dia dan keluarganya menjadi lalai dari mengingat Allah. Sesuatu yang tidak membuat dia dan keluarganya menjadi lupa sama Allah. Sesuatu itu adalah kejadian yang dianggap jelek, yang ternyata baik.

Allah yang punya segala harapan. Dan bahkan Allah mampu, sanggup, kuasa, mewujudkan harapan lain yang lebih baik daripada harapan kita sendiri.

 

to be continued

Salam
Yusuf Mansur

Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5

Sumber: kuliah-online.com

4 thoughts on “Mengharap Sama Allah – Part 3

  1. Pingback: Mengharap Sama Allah – Part 2 | Adeilkomipb's Blog

  2. Pingback: Mengharap Sama Allah – Part 1 | Adeilkomipb's Blog

  3. Pingback: Mengharap Sama Allah – Part 4 | Adeilkomipb's Blog

  4. Pingback: Mengharap Sama Allah – Part 5 | Adeilkomipb's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s