Mengharap Sama Allah – Part 2

Pernah diceritakan datang seorang pedagang kepada Allah, yang jika tidak bisa bayar gironya, maka masalah akan datang bertubi-tubi. Gironya bukan selembar. Tapi 2-3 buku giro. Alias buanyak sekali pembayaran. Dia berpikir bahwa dia merugikan banyak sekali orang. Sementara dagangannya bukan saja tidak laku, tidak jadi duit, tapi dagangannya dibawa lari orang. Sementara aset ga punya. Sudah dijual satu demi satu untuk penbayaran ini dan itu. Setumpuk pembayaran, masih di depan mata.

Dia baca Kuliah Tauhid, Allah menjadikan dirinya juga ujian buat yang lain. Bukan menjadikan yang lain doang sebagai ujian buat dia.

Ngerti ya? Paham ya?

Engga? He he he.

Baik. Saya jabarkan sedikit.

Mereka yang tidak terbayarkan gironya, barangkali Allah pun sedang menghendaki kebaikan buat semuanya. Allah hadirkan si pedagang yang ga bisa bayar ini di kehidupan semua yang memegang giro. Siapa pula yang mengizinkan terisi dan tidak satu giro? Siapa pula yang mengizinkan pertemuan dengan pedagang yang memberi giro ini? Siapa yang mengizinkan transaksi dulu terjadi? Allah. Allah yang menghendaki pertemuan itu. Ada yang dosanya diampuni sebab giro itu ga terbayar lalu dia bersabar. Ada yang derajatnya diangkat dengan sebab gironya itu menyusahkan dirinya lalu dia bersabar. Ada yang keadaanya jadi sulit sebab giro itu ga terbayar, sama atau lebih sulit daripada si pedagang itu. Tapi kemudian dia jadi bersabar. Allah jadikan si pedagang yang ga bisa bayar giro ini, ujian bagi semua yang memegang gironya.

Maka begitu juga si pedagang ini. Allah jadikan semua yang berhubungan dengan dia, Allah jadikan semua kejadian yang terjadi kepada dia, sebagai ujian dari-Nya. Maka bersabarlah.

Pedagang ini menangis. Ga tau lagi apa yang musti dilakukan. Dia terima kemudian cacian, makian, hinaan, kemarahan, dan segenap perlakuan, hingga perkara kemudian ada yang membawanya ke kepolisian. Dia pun menjalani itu semua. Dia menurut ketika dijemput polisi. Dia menurut ketika harus menjalani tuduhan penipuan. Dulu hatinya selalu berontak, “Siapa sih yang mau nipu? Siapa sih yang mau ngerugiin orang?” Tapi semua mata jika melihat, semua telinga jika mendengar, akan menjawab, “Ya, kamu! Kamu buka giro ini giro itu, untuk orang, sementara Kamu udah niat ga bakal bayar, sebab Kamu udah tau ga akan terbayar.” Duh. Akhirnya ketika kepasrahan itu datang, ga bertanya lagi. Memilih menerima saja toko hancur, dagangan ga terbayar, dan masuk bui.

 

to be continued

Salam
Yusuf Mansur

Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
P art 5

Sumber: kuliah-online.com

4 thoughts on “Mengharap Sama Allah – Part 2

  1. Pingback: Mengharap Sama Allah – Part 1 | Adeilkomipb's Blog

  2. Pingback: Mengharap Sama Allah – Part 3 | Adeilkomipb's Blog

  3. Pingback: Mengharap Sama Allah – Part 4 | Adeilkomipb's Blog

  4. Pingback: Mengharap Sama Allah – Part 5 | Adeilkomipb's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s