Mengharap Sama Allah – Part 1

Allah lah tempat berharap semua yang punya harapan.

 

Coba? Kepada siapa lagi mereka yang punya hutang berharap?

Sama manusia lagi?

Sehingga sebenernya bukan terbayar hutangnya?

Melainkan bayar hutang dengan hutang yang bertambah besar?

Kepada siapa yang punya hutang lalu bisa mengadu dengan aman, tenang, menenangkan? Selain kepada ALlah?

Ketika mengadu kepada manusia, yang ada hanya tambahan kepusingan, tambahan masalah, sebab dia juga barangkali punya masalah.

Dan siapa juga yang siap menerima aduan, keluhan, setiap saat?

Ga ada, kecuali Allah.

Allah bisa memberi kesejukan hati. Allah bisa memberikan rasa adem, rasa tenang. Allah akan kuatkan batin.

Dan Allah akan bukakan harapan demi harapan. Bagi sesiapa yang berharap kepada-Nya, Allah akan mewujudkan harapan itu.

Sementara jika ada manusia yang berharap kepada selain Allah, akan Allah patahkan harapannya itu. Sehingga dia berputus asa dan barulah memanggil Allah sepenuh-penuhnya harapan, “Yaa Allah, hanya Engkau harapan saya satu-satunya…” Begitu biasanya lirihan, rintihan, mereka yang akhirnya ga punya harapan lagi kecuali harapan itu kepada Allah.

Mereka yang uangnya di luar. Mereka yang uangnya di tangan orang. Mereka yang proyeknya gagal. Mereka yang kemudian jadi punya masalah yang katanya sebab kejadian demi kejadian yang tidak bisa dikontrolnya. Mereka yang segala harapan dari uang yang bakal kembali, bakal masuk, proyek yang bakal terbayar, lalu tiba-tiba musnah itu semua, kemana kemudian mereka akan berharap? Kecuali kemudian melihat sajadah yang sudah lama tidak ketempelan sama dahi, kening, jidat, yang serius rintihannya, lirihannya, kepada Allah?

Bahkan saat kita semua berlumur dosa pun, Allah tetap membuka Diri-Nya untuk kita.

Ya. Saat semua pintu tertutup, Allah membuka pintu-Nya. Allah memanggil kembali semua yang kehilangan harapan, agar penuh berharap kepada-Nya.

Allah tidak meminta apa-apa dari mereka yang memiliki harapan. Allah meminta mereka percaya bahwa Allah punya begitu banyak keajaiban yang diperlukan oleh mereka. Mereka meminta ampun kepada Allah. Lantas mereka shalat dan berdoa, lalu bersabar. Menerima dulu semua kejadian dengan lapang, dengan ridha, dengan ikhlas, dengan penuh syukur, sementara Allah membereskan satu per satu, sehingga terurai semua masalah, selesai semua kesulitan, teratasi semua kesusahan.

Saat tidak ada lagi yang bisa dilakukan, ambil wudhu, gelar sajadah. Shalatlah. Doa lah. Dan satu yang harus dilakukan: Bersabarlah.

Saya menyebut, sementara Allah membereskan semua masalah dan beban hidup kita, terima dulu semua kejadian. Istirahatkan otak. Jangan banyak bertanya dulu. Tenangkan hati. Katakan, ga apa saat ini susah. Ga apa saat ini begitu banyak masalah. Ga apa saat ini kehilangan banyak hal. Ga apa. Sudah saya serahkan kepada Allah semuanya. Yang terjadi, biarlah dulu terjadi. Asal Allah sudah tau dan sudah saya serahkan, maka terserah Allah saja dulu saya ini musti apa, musti gimana.

 

to be continued

Salam
Yusuf Mansur

Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
P art 5

Sumber: kuliah-online.com

4 thoughts on “Mengharap Sama Allah – Part 1

  1. Pingback: Mengharap Sama Allah – Part 2 | Adeilkomipb's Blog

  2. Pingback: Mengharap Sama Allah – Part 3 | Adeilkomipb's Blog

  3. Pingback: Mengharap Sama Allah – Part 4 | Adeilkomipb's Blog

  4. Pingback: Mengharap Sama Allah – Part 5 | Adeilkomipb's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s